-1 Apresiasi Kepada Guru Indonesia

  • Whatsapp

WartaDepok.comĀ – Sepeninggal ayah, kebutuhan ekonomi semakin tinggi. Ditambah kondisi hari ini, semuanya menjadi sulit akibat pandemi. Arif si anak sulung yang berprofesi sebagai guru baru, terus saja berusaha menghidupi keluarganya dan ingin memperbaiki sistem pendidikan yang bobrok.

Namun berbeda dengan Rara, Rara selalu saja menolak dan bersi keras untuk tetap menjadi pekerja kantoran karena tidak mau menjadi guru. Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa, tapi seberapa besar jasa itu dapat merubah sendi-sendi kehidupan.

Kegelisahan tentang nasib guru yang harus membiayai hidupnya, tapi juga harus bertanggungjawab mengajar muridnya diangkat ke panggung teater oleh Komunitas Ranggon Sastra dengan lakon -1.

Kegelisahan dan gagasan Komunitas Ranggon Sastra melalui sutradara M Adli mampu menyampaikan pesan bahwa guru juga harus diperhatikan. “Kami ingin menyampaikan selain ada buruh yang setiap tahun minta naik gaji, tapi ada guru, yang tetap bertahan dengan kondisi ekonomi pas-pasan,” kata M Adli.

Dia berharap, melalui pementasa yang dilakukan KRS di Depok Town Center (DTC) Jalan Raya Sawangan, Sabtu (21/11) mampu mewakili suara aspirasi guru, dan meningkatkan perhatian pemerintah terhadap guru.

Menurutnya lakon tersebut akan dibawa di pentas festival, namun karena Covid-19, sontak festival di tiadakan, sehingga KRS memilih memanggungkan -1 di DTC. “Ini rencana mau kami bawa di festival, tapi karena Pandemi festival tidak ada,” kata M Adli.

Sementara itu, penggiat teater di Jakarta Diding Boneng yang turut menyaksikan pementasan -1 mengapresiasi pertunjukan KRS. “Secara pertunjukan pesannya sampai, karena sangat sederhana dan konteksnya jelas,” kata Diding.

Namun menurutnya kedepan logika sutradara harus terus diasah. Karena pertunjukannya realis, sebaiknya sutradara menghadirkan logika-logika realis yang masuk akal. “Karena ini realis, logika realisnya harus jalan,” kata Diding.

Seperti beberapa adegan, yang belum jelas menggambarkan itu kamar, atau kamar mandi, karena orang keuar mandi sama keluar dari kamar dari pintu yang sama.

Belum lagi suasana rumah, dia menggambarkan keluarga ekonomi rendah atau keluarga kaya, karena menurutnya tidak tergambar jelas dari artistik yang disuguhkan.

“Kalau pentas mandiri sih aman, tapi kalau sudah masuk Festival semua akan dihitung, dan logika realis yang sederhana itu masuk hitungan, dan sangat fatal jika tidak diperbaiki,” kata Diding Boneng. (rub/WD)

Related posts