Menarik! Analisis Presidium Kalam HMI soal Polemik Afifah-Imam Budi

  • Whatsapp

WartaDepok.com – Perhelatan Pilkada Depok 2020 harus menjadi momentum berpolitik yang sehat. Para elite politik, yang notabene ‘pemain’ utama dalam pesta demokrasi rakyat, wajib memberi teladan.

Cara elegan dan berakhlak menjadi sebuah keniscayaan. Haram hukumnya memainkan politik SARA hingga isu gender.

Read More

Pernyataan tersebut disampaikan Presidium Kumpulan Alumni HMI (Kalam HMI) Kota Depok, Hendrik Isnaini Raseukiy, ketika menanggapi polemik dua calon wakil wali kota Depok, Imam Budi Hartono dan Afifah Alia.

Secara bijak, Hendrik meminta seluruh paslon untuk berpikir paripurna dalam mengikuti konstestasi Pilkada. Misalnya tidak membawa-bawa emosional gender dalam praktik komunikasi politik.

“Ya misalnya memposisikan dirinya sebagai perempuan sehingga mudah sekali menyalahkan. Atau mempersepsikan sisi negatif dari kalimat-kalimat pernyataan-pernyataan pesaing politiknya,” ujar eks Aktivis Reformasi 1998 itu.

Hendrik mengingatkan bahwa semakin meningginya tensi politik, rawan terjadi politisasi dan kapitalisasi isu. Terlebih di media maupun media sosial.

Artinya, lanjut Hendrik, jika ditarik dalam konteks kasus pengakuan Afifah terkait dugaan pelecehan Imam Budi Hartono, tak perlu diperluas.

“Keduanya sudah resmi bertarung di Pilkada. Artinya segala aktivitas proses politiknya tidak lagi ada perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan,” ungkap dia.

“Janganlah menggunakan emosional bagian kewanitaannya ataupun mengkapitalisasi emosional gendernya untuk menjadi sebuah keuntungan,” beber Hendrik.

Dia menyebut jika merujuk klarifikasi Imam Budi di sejumlah media, tak ada niatan untuk melecehkan. Karena sejatinya Imam Budi menyampaikan pernyataan tersebut kepada cucunya.

“Tapi memang karena ini politik, Imam Budi harus hati-hati juga. Jadi pelajaran ke depan. Sama halnya dengan Afifah, saya pikir harus bijak juga. Buat semua kontestan, jangan baperan,” tegas dia.

Hendrik berharap ke depan Pilkada Depok diwarnai perang gagasan yang inovatif dan visioner. Bukan sibuk menyerang alias kampanye hitam.

“Intinya, beri ruang kepada masyarakat untuk memilih anda-anda ini dengan suguhan visi-misi yang bagus,” pungkas Hendrik.(*)

Related posts