BMKG Ingatkan 2 Hari Intensitas Hujan Meningkat 

  • Whatsapp
Awan gelap menyelimuti langit di kawasan Jalan Margonda Raya dan Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Depok, Senin (25/1). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2021, sehingga masyarakat diharapkan waspada jika terjadi cuaca ekstrem.(Ahmad Fachry/WartaDepok.com)

WartaDepok.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mengingatkan adanya potensi banjir dan longsor di wilayah DKI Jakarta pada dua hari ke depan. Pasalnya, intensitas hujan akan meningkat menjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi pada tanggal 23 sampai dengan 24 Februari 2021.

“Jadi masih perlu peningkatan kewaspadaan potensi hujan lebat yang dapat berpotensi memicu banjir dan longsor di Wilayah DKI Jakarta pada hari Selasa dan Rabu (23-24 Februari 2021),” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, seperti dikutip dari situs BMKG, Senin, (22/2/ 2021).

Read More

BMKG sebelumnya juga sudah mengeluarkan peringatan dini pada 18-19 Februari 2021 yang menyebutkan wilayah Jabodetabek diprediksi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat dengan curah hujan antara 100-150 mm.

Dari data yang dihimpun BMKG, tercatat curah hujan tertinggi terjadi di Pasar Minggu mencapai 226 mm/hari, kemudian di Sunter Hulu 197 mm/hari, Lebak Bulus 154 mm/hari dan Halim 176 mm/hari. “Umumnya kejadian hujan terjadi malam hingga dinihari dan berlanjut sampai pagi hari. Ini merupakan waktu-waktu yang kritis dan perlu diwaspadai,” ucap Dwikorita.

Deputi Bidang Meteorologi Guswanto menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek tersebut disebabkan sejumlah faktor yaitu pada 18-19 Februari 2021 terpantau adanya seruakan udara dari Asia yang cukup signifikan. Akibatnya, terjadi peningkatan awan hujan di Indonesia bagian barat.

Selain itu, terpantau aktivitas gangguan atmosfer di zona equator (Rossby equatorial) yang mengakibatkan adanya perlambatan dan pertemuan angin dari arah utara membelok tepat melewati Jabodetabek. Hal tersebut yang kemudian memicu peningkatan intensitas pembentukan awan-awan hujan.

Juga adanya tingkat labilitas dan kebasahan udara di sebagian besar wilayah Jawa bagian barat yang cukup tinggi. Akibatnya terjadi peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Jabodetabek.

BMKG juga memantau adanya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di sebagian besar Pulau Jawa dan berkontribusi juga dalam peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di barat Jawa termasuk Jabodetabek.

Namun, menurut BMKG, secara umum curah hujan di DKI Jakarta saat ini sebenarnya masih lebih rendah dibandingkan curah hujan pada Januari 2020 yang juga menyebabkan banjir di wilayah Jabodetabek

Related posts



banner 300300