Mahasiswa Nahdliyyin UI adakan Ambassador Lecture tentang Afghanistan

  • Whatsapp

WartaDepok.com – Melalui kanal Zoomwebinar, mahasiswa nahdliyyin Universitas Indonesia mengadakan Ambassador Lecture dengan tema “Peran Indonesia dalam Mengupayakan Perdamaian di Afghanistan” bersama Dr. Ir (Mayjen Purn) Arief Rachman MD, Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kabul, Republik Islam Afghanistan.

Selain itu, acara juga dihadiri oleh Prof. Dr. rer. nat Abdul Haris, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia. Acara diselenggarakan oleh wadah kolektif organisasi nahdliyyin di sekitar UI, yaitu Indonesia Development Outlook Nahdliyyin Unity (PMII UI, KMNU UI, OSPAM & INSANI Al Hikam, dan DEMA STKQ Al Hikam).
Acara dibuka dengan sambutan oleh Prof Haris selaku Warek I UI.

Read More

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bapak Arief, selaku Dubes RI di Afghanistan.

Prof Haris di awal sambutan bahkan mengapresiasi kegiatan Ambassador Lecture, apalagi kegiatan diskusi ini dilaksanakan di bulan puasa, yang tidurnya saja bernilai ibadah, apalagi jika digunakan untuk belajar dan mencari ilmu.

Kemudian dalam sambutan, Prof Haris menyampaikan bahwa Islam di Indonesia memiliki ciri; tasamuh tolerance, tawasuth moderation, tawazun balance dan adil justice.

Prof Haris juga menyinggung adanya kelompok Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) yang merupakan organisasi massa berbasis keislaman di Afghanistan yang belajar ke NU di Indonesia.

Di akhir sambutan, beliau menyampaikan pentingnya mahasiswa untuk tahu bagaimana perkembangan dunia dan untuk mengaktualisasikan diri sesuai kepakaran masing-masing.

Selanjutnya, acara utama yaitu pemaparan dari Bapak Arief. Pada awal pemarapan, Pak Arief menyampaikan tentang pentingnya menjaga tauhid dan keyakinan beragama yang kokoh. Kemudian, beliau menjelaskan sejarah 5000 tahun Afghanistan, tempat “Kuburan Para Raja”, sejarah Afghanistan tidak lepas dari sejarah penaklukan dan perebutan wilayah.

Pak Arief menyebutkan adagium terkenal mengenai Afghanistan:
“Jika ingin menguasai Dunia/Asia, maka kuasailah Asia Tengah, dan jika ingin menguasai Asia tengah, kuasailah wilayah yang paling tengah, Afghanistan.”

Sepanjang sejarah, sejak Alexander The Great, Romawi, Persia, Mongolia, Uni Soviet, hingga Amerika, tidak ada yang benar-benar dapat menguasai Afghanistan. Super power dunia hanya menjajah sedikit dari wilayah, dan berakhir kalah.

Setelah penjabaran mengenai Afghanistan, Pak Arief melanjutkan pembahasan mengenai Indonesia yang aktif dalam mengupayakan perdamian, hal ini dilakukan semata-mata karena amanat konstitusi kita; ikut melaksanakan ketertiban dunia, sehingga posisi Indonesia bukan ingin mencari panggung atau meminta-minta disertakan dalam kancah politik di Afghanistan.

Indonesia dapat diterima oleh pihak yang bertikai di Afghanistan, khususnya pemerintah Afghanistan dan Taliban.

Penerimaan ini tidak lepas dari Indonesia yang dinilai tidak ada tendensi kepentingan apapun di Afghanistan, selain itu sejarah Indonesia yang bersikap bebas aktif dan nonblok, terlebih lagi Indonesia merupakan negara demokrasi muslim terbesar dunia. Pancasila sebagai dasar negara yang mengikat bangsa Indonesia coba di kembangkan dengan nilai yang cocok di Afghanistan.

Terakhir, beliau menyampaikan peran negara, ulama dan pemberdayaan perempuan dalam mengupayakan perdamaian di Afghanistan.
Acara kemudian dilanjutkan diskusi dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Imam K Hayatullah selaku moderator.

Dalam diskusi, peserta menanyakan mengenai Taliban dan prospek perdamaian khususnya selepas penarikan pasukan Amerika.

Pak Arief, menjabarkan bahwa prospek perdamaian selalu ada, namun dalam waktu dekat tentu tidak ada yang bisa menjawab, terlebih dengan penarikan pasukan Amerika.

Sebagimana penarikan pasukan Amerika di negara lain, biasanya menyisakan chaos, karena masih ada pasukan Amerika, kasus penyerangan, bom masih ada di Afghanistan.

Karena itu, Indonesia selalu mengedepankan diplomasi dengan telaten dan tidak tergesa-gesa. Karena perdamaian bukan hal instan yang dapat dicapai.

Kemudian, di akhir diskusi Pak Arief juga menyampaikan bahwa Indonesia turut membantu Afghanistan dengan mengirim siswa Afghanistan untuk belajar di Indonesia, hal ini kemudian disambut dengan tangan terbuka oleh Prof Haris. Semoga tercapai kesepakatan antara Kedubes Indonesia dan Universitas Indonesia.

Related posts



banner 300300