Sosialisaikan Materi 4 Pilar, Intan Gunakan Cara yang Simpel dan Mengena

  • Whatsapp
SOSIALISASI : Anggota MPR RI, Intan Fauzi saat memberikan sambutan dalam sosialisasi empat pilar di Aula Kantor Sekretariat RW09 Jalan Siak VIII RT07/09 Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya, Sabtu (1/2).

WartaDepok.com – Anggota MPR RI, Intan Fauzi mengungkapkan, sosialisasi empat pilar penyampaiannya dapat disesuaikan dengan audience-nya. Bahkan, kendati belum pernah, untuk anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pun bisa dilakukan agar menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Anggota Fraksi PAN DPR RI tersebut usai menggelar sosialisasi empat pilar di Aula Kantor Sekretariat RW09 Jalan Siak VIII RT07/09 Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya, Sabtu (9/2).

Read More

“Sebagai anggota MPR dirinya berkewajiban melakukan sosialisasi empat pilar, yakni Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945. Terkait audience-nya macam-macam, termasuk juga dengan anak PAUD, disosialisasi sejak dini, tentu dengan bahasa yang berbeda,” kata Intan saat diwawancara wartawan.

Ia menjelaskan, dalam sosialisasi empat pilar di RW09 Kelurahan Baktijaya ini, audiencenya lebih banyak forum RT/RW dan tokoh masyarakat, sehingga ia akan berbicara mengenai ketatanegaraan dan sebagainya.

“Dalam sosialisasi empat pilar itu harus ada narasumber utama, kali ini saya meminta Wakil Ketua MUI Kecamatan Sukmajaya, K.H Nurman untuk menyampaikan,” kata Intan.

Sementara, jika dengan ibu-ibu, pendekatannya lebih kepada bagaimana mereka berkegiatan dan berorganisasi di lingkungan, seperti musyawarah mufakat itu dalam suatu organisasi. Sedangkan, berbicara dengan milenial, wawasan kebangsaan, disesuaikan dengan bahasa dan kepentingan mereka. Seperti, anak muda jangan sampai terpapar budaya luar dan sebagainya, akhirnya empat pilar ini lupa.

“Mungkin suatu waktu bisa dengan anak-anak PAUD, walaupun saya belum pernah, tapi itu juga bisa,” katanya.

Ia mengatakan, sejak usia dini, memang perlu dikenalkan, salah satunya terkait Bhineka  Tunggal Ika, seperti ada teman dari satu anak yang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lainnya. Sehingga, perlu dijelaskan perbedaan tersebut, jangan sampai ini menjadi perpecahan.

“Justru keberagaman yang dimiliki ini merupakan kekuatan kita sebagai Bangsa Indonesia,” tegasnya.

Intan pun menegaskan bahwa yang terpenting adalah mengamalkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebab, banyak yang hafal Pancasila, tapi mengamalkannya kita lupa,” tutup Intan.

Sementara, Wakil Ketua MUI Kecamatan Sukmajaya, K.H Nurman mengatakan, dulu ada penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), jika ingin masuk kuliah harus ikut itu.

“Kalau tidak ikut, tidak bisa mengikuti ujian negara. Seiring perkembangan zaman ,itu sudah tidak ada lagi,” katanya.

Ia menjelaskan, empat pilar ini sama seperti yang dituturkan sahabat Rasulullah, Syaidina Ali yang mengatakan agama dan dunia akan tetap berdiri tegak jika ada empat pilar ini,yakni selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya.

Kemudian, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia.

“Sebaliknya, keempat perkara itu menjadi indikator runtuhnya fondasi agama dan dunia, apabila tidak berjalan secara fungsional,” ucapnya.

Untuk itu, ia berharap, kedepannya terus muncul generasi penerus yang cinta Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945.

“Semoga dengan sosialisasi ini dapat menjadikan Kota Depok lebih baik lagi,” pungkasnya.(zan/mam)

Related posts



banner 300300