DALAM kerja jurnalistik, mata adalah pintu pertama untuk memahami dunia. Ia membaca dokumen, menangkap ekspresi narasumber, menyisir detail visual di lapangan, lalu kembali bekerja di depan layar untuk menyunting dan merangkai fakta. Intensitas penggunaan mata yang tinggi membuat kesehatan mata menjadi bagian penting dari kualitas kerja jurnalistik, meski kerap luput dari perhatian.
Keluhan seperti mata terasa sepet, perih, dan lelah sering muncul di sela aktivitas tersebut. Sayangnya, tanda-tanda ini kerap dianggap remeh. Banyak jurnalis mengaitkannya dengan kurang tidur, jadwal kerja yang padat, atau terlalu lama menatap layar. Padahal, dari sudut pandang kesehatan, ketiga gejala itu merupakan indikasi umum mata kering, kondisi yang tidak bisa disederhanakan sebagai kelelahan biasa.
Efek Mata Kering
Secara medis, mata kering terjadi ketika produksi air mata tidak mencukupi atau kualitasnya tidak optimal untuk menjaga kelembapan permukaan mata. Akibatnya, mata menjadi mudah iritasi, terasa mengganjal, cepat lelah, dan tidak nyaman. Dalam jangka pendek, keluhan ini memang tampak ringan. Namun jika dibiarkan berulang tanpa penanganan, mata kering dapat memengaruhi kualitas penglihatan, meningkatkan sensitivitas terhadap cahaya, hingga menurunkan konsentrasi.
Bagi pekerja jurnalistik, dampaknya menjadi berlapis. Mata yang tidak nyaman membuat proses membaca dan menyunting menjadi lebih berat. Fokus mudah terpecah, ketelitian berkurang, dan kelelahan datang lebih cepat. Dalam profesi yang menuntut akurasi, kejernihan pandang, dan kecepatan berpikir, kondisi kesehatan mata berperan langsung terhadap mutu hasil kerja.
Di kota-kota besar dengan intensitas kerja tinggi dan paparan layar digital yang panjang, mata kering semakin relevan sebagai isu kesehatan. Data menunjukkan prevalensi mata kering di wilayah urban cukup tinggi, bahkan banyak penderitanya tidak menyadari kondisi tersebut. Gejalanya terlalu akrab dengan keseharian, sehingga sering dinormalisasi sebagai bagian dari tuntutan pekerjaan.
Kampanye Bebas Mata SePeLe
Kesadaran inilah yang coba dibangun melalui kampanye “Bebas Mata SePeLe”. Kampanye ini menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal mata kering, seperti sepet, perih, dan lelah, agar tidak terus diabaikan. Dengan mengenali gejala sejak dini, langkah pencegahan dan perawatan dapat dilakukan lebih cepat, sebelum keluhan berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Dalam konteks ini, peran produk perawatan mata menjadi relevan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. INSTO, yang telah lama dikenal dalam keseharian masyarakat, menghadirkan varian INSTO Dry Eyes untuk membantu meredakan gejala mata kering. Kehadirannya bukan sekadar solusi praktis, tetapi juga pengingat bahwa mata perlu dirawat secara sadar, terutama bagi mereka yang mengandalkannya dalam pekerjaan sehari-hari.
Bagi awak media, menjaga kesehatan mata dapat dipandang sebagai bagian dari etika profesional. Sama seperti menjaga integritas data dan ketepatan informasi, merawat mata berarti memastikan alat utama kerja tetap berada dalam kondisi optimal. Mata yang nyaman membantu jurnalis bekerja lebih fokus, lebih teliti, dan lebih bertanggung jawab dalam menyampaikan realitas kepada publik.
Pada akhirnya, mata sepet, perih, dan lelah bukan sekadar gangguan kecil yang bisa terus ditunda. Ia adalah sinyal tubuh yang perlu dikenali dan dihargai. Kampanye Bebas Mata SePeLe mengajak untuk mengubah cara pandang tersebut, dari menganggap remeh menjadi lebih peduli. Karena dalam kerja jurnalistik, kejernihan pandang bukan hanya soal apa yang dilihat, tetapi juga bagaimana menjaga kemampuan untuk terus melihat dengan sehat dan berkelanjutan.(*)












