Perlindungan Anak, Sebuah Pekerjaan Rumah yang Kerap Dilupakan

  • Whatsapp
Pixabay/Ilustrasi Anak

Anak adalah Masa depan bangsa ini, merekalah yang akan menjadi penerus dan pewaris Bangsa. Membangun generasi emas tentu bukan didapat dari sebuah keajaiban namun harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sistematis. Namun terkadang Kita seringkaali abai dan menomor sekiankan persoalan persoalan anak.

Kita kadang lebih asik memainkan issue issue besar yang nampak di permukaan dan tidak memprioritaskan bagaiamana generasi emas akan tercipta.

Read More

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui KepPres No. 30 tahun 1990, dalam KHA disebutkan hak-hak dasar anak yang wajib kita ketahui. Hak dasar anak yang wajib diketahui adalah Hak Hidup atau hak sipil, Hak Tumbuh Kembang, Hak Perlindungan

Hak Berpartisipasi dan menyatakan pendapat.

Oleh karena itu prinsi prinsip KHA harus berpedoman pada Non diskriminasi, terbaik bagi anak, mengutamakan Hak Hidup, Kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak dan penghargaan terhadap anak.

Tujuan dari Konvensi Hak Anak adalah untuk menegakan prinsip prinsip pengakuan atas martabat yang melekat dan hak yang sama pada anak anak yang diakui sebagai manusia dan merupakan landasan bagi kemerdekaan, keadilan dan perdamaian.

Namun demikian hingga maret 2018 data di KPAI menunjukkan ada 26.954 kasus kekerasan terhadap anak dalam 7 tahun terakhir. Badan Pusat Statistik 2006 menyebutkan bahwa selama tahun 2006 sekitar 2,81 juta anak mengalami kekerasan dengan berbagai kategori.

Jenis Kekerasan Terhadap Anak

Kekerasan Fisik, merupakan kekerasan yang dilakukan dengan menyakiti secara fisik seperti memukul, menendang, meninju, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan luka dan trauma fisik bahkan bisa mengakibatkan cacat tubuh hingga kematian.

Kekerasan Seksual, kekerasan secara seksual yg didapat anak baik pemakasaan secara seksual  ancaman seksual, pelecehan secara seksual.

Kekerasan Emosional berupa kekerasan yg didapat anak dari ancaman secara emosional, berupa kekerasan verbal, ancaman, penglambinghitaman, stigmatisasi, tekanan psikis dan emosi yang dapat mengganggu psikis dan mental dari anak.

Pengabaian , mengabaikan hak anak berupa mengabaikan tumbuh kembangnya, mengabaikan kesehatan anak, mengabaikan hak mendapatkan pendidikan dan menelantarkan anak anak.

Eksploitasi Anak , merupakan kekerasan yg dilakukan dengan memgeksploitasi keberadaan anak, pemaksaan terhadap anak untuk melakukan sebuah pekerjaan, perdagangan anak, hingga eksploitasi anak untuk pelacuran dan conten pornografi.

Kekerasan terhadap anak memiliki banyak dampak terhadap kelangsungan hidup anak-anak. Dampak Kekerasan  beresiko  terhadap kesehatan fisik cacat tubuh, penyakit menular seksual, kehamilan pada anak, HIV/AIDS hingga berdampak pada kematian.

Resiko terhadap kesehatan mental, memiliki tingkat kecemasan tinggi dan depresi, anak menjadi rendah diri dan minder, sering menyakiti diri sendiri dan memiliki keinginan untuk bunuh diri, stress, agresive, obsessive dan cepat marah.

Selain berdampak pada kesehatan fisik dan mental juga berpengaruh pada Pendidikan dan ketenagakerjaan, di sekolah anak bermasalah, sering bolos bahkan DO, yang mengakibatkan pada tingkat pengangguran bertambah.

Seorang korban Keekerasan dapat menjadi pelaku kekerasan selanjutnya.

Dalam Pasal 72 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengamanatkan masyarakat dan lembaga pendidikan untuk berperan dalam perlindungan anak, termasuk di dalamnya melakukan upaya pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungannya.

Perlindungan anak meliputi berbagai aspek, yaitu: (a) perlindungan terhadap hak-hak asasi dan kebebasan anak; (b) perlindungan anak dalam proses peradilan; (c) perlindungan kesejahteraan anak (dalam lingkungan keluarga, pendidikan dan lingkungan sosial); (d) perlindungan anak dalam masalah penahanan dan perampasan kemerdekaan; (e) perlindungan anak dari segala bentuk eksploitasi (perbudakan, perdagangan anak, pelacuran, pornografi, perdagangan/penyalahgunaan obat-obatan, memperalat anak dalam melakukan kejahatan dan sebagainya); (f) perlindungan terhadap anak-anak jalanan; (g) perlindungan anak dari akibat-akibat peperangan/konflik bersenjata; (h) perlindungan anak terhadap tindakan kekerasan. (Nawawi Arief, 1998).

Peran Keluarga Dalam Upaya Perlindungan Anak

Keluarga sebagai kesatuan terkecil dalam masyarakat adalah ujung tombak dari keberhasilan upaya perlindungan anak. Peran keluarga dan kehadiran orangtualah yang terpenting dalam setiap tumbuh kembang anak.

Ayah dan ibu memIliki peran yang seimbang dalam membantu tumbuh kembang anak agar sesuai yang diharapakan dan sesuai dengan usianya. Anak anak membutuhkan kehadiran orangtua dalam setiap fase perkembangan usianya, namun demikian banyak keluarga yang lebih menyerahkan perkembangan anak baik fisik dan mental hanya dalam pengawasan sosok ibu padahal peran ayah juga sama pentingnya dengan peran ibu.

Bahkan dewasa ini banyak keluarga yg lebih mengutamakan pada kepentingan ekonomi semata sehingga pengawasan dan peran orangtua tergantikan oleh orang lain seperti Pekerja Rumah tangga atau pengasuh anak. Kehadiran orangtua yg sangat minim dalam kehidupan anak inilah yang kerap memacu permasalahan pada anak.

Anak yang frustasi, pemarah,merasa kesepian dan merasa tidak disayangi sering menjadi awal dari munculnya berbagai masalah dalam kehidupan anak2. Pengawasan yang lemah dan pengabaian hak hak anak memicu anak mencoba hal hal yang belum layak dilakukan anak anak.

Selain Keluarga, sekolah juga menjadi ujung tombak dari keberhasilan upaya perlindungan anak saat ini. Sekolah yang ramah anak menjadi sebuah satuan terpenting menjadikan anak tetap Gembira dan ceria

Apa itu sekolah Ramah Anak?

Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah satuan pendidikan formal, nonformal dan informal yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi dan perlakuan salah lainya serta mendukung partisipasi anak tertuma dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawaasan dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan.

Sebagai bentuk tanggung jawab dan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan pada anak . Sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat menerapkan Sekolah Ramah Anak yang berprinsip pada non diskriminasi, pemenuhan hak anak, yang terbaik untuk anak, partisipasi dan melibatkan anak juga manajemen yang baik.

Di Sekolah Ramah Anak setiap tenaga pengajar dan karyawan dikenalkan pada apa itu hak anak, dan juga UU Perlindungan Anak. Prinsip dasar dari Sekolah Ramah anak adalah untuk melindungi 8 jam anak selama di Sekolah agar tetap dalam kondisi aman, nyaman dan menyenangkan hingga pemenuhan hak pendidikan bagi anak dapat berjalan dengan baik.

Mencegah bullying dan kekerasan yg sering terjadi di satuan pendidikan yang terkadang tqnpa sadar dilakukan oleh guru terhadap siswa bahkan sebaliknya siswa terhadap siswa lainnya.

Menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman bagi siswa dan bersekolah dengan gembira tanpa tekanan dan ketakutan.

SRA mungkin bukan satu satunya cara terbaik dalam mencegah dan menangani Kekerasan terhadap Anak tapi salah satu upaya yg dapat dilakukan oleh masyarakqt dan satuan pendidikan untuk meminimalisir Kekerasan terhadap Anak .

Keluarga dan sekolah dapat bersinergi dalam upaya mencegah keekerasan terhadap anak dan juga memenuhi fase tumbuh kembang anak. Sesuai tema Hari Anak Nasional 2019 “Gembiralah Anak Indonesia” maka peran orangtua , keeluarga  guru dan sekolah harus terus bekerjasama mewujudkan kegembiraan anak2 baik di rumah dan di sekolah.

Anak yang gembira bahagia dan ceria terpenuhi semua haknya dapat menjadikan masa depan bangsa Indonesia menjadi lebih baik dengan memiliki generasi2 penerus yang berkepribadian, terdidik baik, kreatif, cerdas dan Inovatif.

Selamat Hari Anak Nasional

*Penulis adalah Pengelola Yayasan Pendidikan Islam Nurul Fatimah (SDI Nurul Fatimah Role Model Sekolah Ramah Anak Kab. Bogor), Aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak)

Related posts



banner 300300