Ini Cara Atasi Serangan Kardiovaskular di Masa Pandemi

  • Whatsapp

WartaDepok.com – Penyakit kardiovaskular merupakan sekelompok gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Empat dari lima kematian akibat penyakit kardiovaskular didominasi oleh serangan jantung dan stroke, sepertiga dari kejadian kematian ini terjadi pada orang-orang yang usianya relatif muda.

Di era pandemi COVID-19 saat ini, penderita penyakit kardiovaskular memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gejala berat saat terinfeksi COVID-19, dan risiko kematian yang 2-3x lipat lebih tinggi dibandingkan pasien COVID-19 tanpa penyakit kardiovaskuler.

Read More

Selain itu, sebentar lagi masyarakat muslim akan menyambut hari raya idul fitri atau lebih sering disebut dengan hari lebaran.

Hari lebaran pada beberapa orang sering dijadikan sebagai ajang ‘balas dendam’ makan setelah satu bulan berpuasa.

Padahal konsumsi makanan yang berlebihan ini sangat berisiko untuk mengalami gangguan kardiovaskuler, seperti hipertensi, stroke, atau penyakit jantung.

Diharapkan melalui penyelenggaraan Bicara Sehat ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan penyakit kardiovaskular khususnya di era pandemi dan momen lebaran. Seminar ini dimoderatori oleh dr. Delia Rasmawati yang merupakan Dokter Umum di RSUI.

Pada pembahasan pertama oleh dr. Muhammad Hafiz Aini, Sp.PD yakni sebagai Dokter Spesialis Penyakit dalam RSUI yang merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dokter Hafiz membawakan materi dengan tema “Lebaran Tiba, Pentingnya Mencegah Hipertensi sejak Dini”. Dokter Hafiz mengawali materi dengan menampilkan data terkait hipertensi.

Sekitar 1 miliar orang di dunia memiliki hipertensi, sebanyak dua pertiganya ada di negara-negara berkembang. Dari 25,8% orang dengan hipertensi hanya sepertiganya yang terdiagnosis.

Faktor risiko hipertensi ada dua macam yaitu faktor yang tidak dapat diubah (usia, jenis kelamin, genetik) dan faktor yang dapat diubah (terkait gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat yang tinggi natrium/garam, obesitas, stres, dan merokok).

Terkait batas aman tekanan darah, dokter Hafiz menjelaskan tekanan darah normal jika nilai sistol kurang dari 120 dan diastol kurang dari 80.

“Seseorang dengan tekanan sistol lebih dari 140 dan diastol lebih dari 90 harus melakukan kontrol rutin hipertensi di fasilitas kesehatan. Jika tekanan darah sistol lebih dari 180 dan diastol lebih dari 120 dan ada keluhan mendadak, dikenal dengan krisis hipertensi, jika mengalami keadaan ini harus segera dibawa ke IGD.” katanya.

Beberapa tips saat melakukan pengukuran tekanan darah di rumah, yang perlu diperhatikan sebelum pengukuran pastikan istirahat 2-5 menit, posisi duduk, tidak minum kafein, minum obat rutin, dan tidak menahan buang air kecil.

“Pengukuran sebaiknya dilakukan 2-3 kali dengan selang 1 menit yang dilakukan saat pagi atau malam selama 3-7 hari untuk mendapatkan variasi dan rata-rata tekanan darah.” ujar dr.Hafiz

Untuk penggunaan alat, dokter Hafiz juga menyarankan untuk menggunakan alat tensi digital (lengan).

“Jangan lupa untuk kalibrasi alat, dan jangan banyak bergerak saat pengukuran.” sambungnya.

Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan keluhan, sehingga hipertensi sering disebut dengan silent killer.

Beberapa gejala hipertensi yang umum di antaranya nyeri dada, dada berdebar, penglihatan buram, mudah lelah, pusing, dan sakit kepala.

Dokter Hafiz menerangkan, beberapa tips mengendalikan hipertensi yaitu dengan istilah PATUH (Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter; Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, benar, dan rutin; Tetap diet dengan gizi seimbang; Upayakan aktivitas fisik secara rutin dana man; Hindari asap rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya).

Di akhir, dokter Hafiz memberikan sebuah pesan kita harus bisa hidup sehat tanpa hipertensi, namun kalau sudah kena hipertensi, kita bisa hidup sehat dengan hipertensi.

Untuk narasumber kedua yaitu dr. Dinda Diafiri, Sp.S yang merupakan Dokter Spesialis Saraf RSUI, yang juga merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dokter Dinda membawakan materi dengan tema “Stroke saat Lebaran, Risiko dan Penanganannya”.

Dokter Dinda mengawali materi dengan menyajikan data seputar stroke. Stroke di Indonesia masih menjadi pembunuh dan penyebab kecacatan nomor 1 untuk penyakit tidak menular sejak tahun 2014 hingga saat ini.

Stroke ada dua jenis, yaitu stroke akibat sumbatan plak dan stroke akibat perdarahan.

Dokter Dinda menuturkan bahwa suasana saat lebaran dengan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori dan gula berlebihan seperti opor, rendang, es cendol dan es boba, berkurangnya aktivitas fisik saat lebaran, serta lupa minum obat dapat memicu terjadinya hipertensi dan stroke.

“Saat lebaran, disarankan untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan, tetap melakukan aktivitas fisik, serta minum obat secara teratur sesuai dengan petunjuk dokter.” tuturnya.

Dokter Dinda mengenalkan slogan SeGeRa Ke RS dari Kementerian Kesehatan RI terkait tanda stroke, yaitu Senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba, Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba, BicaRa pelo/tiba-tiba tidak dapat bicara/ tidak mengerti kata-kata/ bicara tidak nyambung, Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuh, Rabun, pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba, Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi (tremor/gemetar/sempoyongan).

Jika mengalami gejala-gejala ini, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan, karena setiap detiknya sangatlah berharga.

Stroke memiliki periode emas yaitu 4,5 jam, jika dalam periode emas itu dapat segera ditangani, risiko kematian dan kecacatan stroke dapat diturunkan.

Jangan menunda ke rumah sakit dengan harapan gejala akan mengalami perbaikan dengan sendirinya, demikian ditegaskan oleh Dokter Dinda.

Bila segera dibawa ke RS, penanganan stroke bisa menyelamatkan bagian otak yang belum mengalami kematian. Sehingga bisa dikatakan dapat mencegah kematian jaringan yang terlalu luas.

Dokter Dinda juga menyebutkan beberapa mitos terkait stroke yang banyak beredar di masyarakat, di antaranya melakukan tusuk jarum pada telinga, jari tangan, atau jari kaki saat mengalami gejala stroke, hal ini tidaklah benar.

“Stroke terjadi karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak, bukan pada pembuluh darah tepi anggota tubuh lainnya. Melakukan tusuk jarum pada anggota tubuh berisiko infeksi bila jarum tidak steril” ujar dr.Dinda

Selain itu, banyak pula masyarakat yang jika memiliki gejala stroke (seperti mulut mencong atau berbicara pelo) justru dibawa ke dukun atau ke pengobatan alternatif, padahal seharusnya orang tersebut segera dibawa ke rumah sakit.

Baik Dokter Hafiz dan Dokter Dinda menyoroti tentang potensi makan berlebihan saat lebaran.

Dokter Hafiz juga memberikan tips pengaturan pemilihan makanan saat lebaran yaitu dengan menggunakan prinsip isi piringku.

Dalam satu piring makan, Dokter Hafiz mengajak untuk melengkapi dengan makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah.

Jumlah sayur dan buah dicukupi hingga setengah piring. Usahakan untuk mengurangi penggunaan santan.

Selain itu, hindari jumlah garam yang berlebihan misalnya kerupuk yang tinggi kalori dan natrium, dan hindari karbohidrat tersembunyi.

Sedangkan Dokter Dinda menggambarkan risiko yang makin besar karena biasanya budaya silaturahmi ke banyak rumah diikuti dengan tidak dapat menolak makan yang disediakan.

Narasumber terakhir yakni dr. Muhammad Arza Putra, Sp.BTKV(K) yang merupakan Dokter Spesialis Bedah Thorax dan Kardiovaskular sekaligus Direktur Pelayanan Medik di RSUI.

Dokter Arza membawakan materi dengan tema “Bypass Selama Pandemi, Apa yang Harus Diketahui?”.

Dokter Arza mengawali materi dengan menampilkan data dari WHO yang menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia tahun 2015.

Faktor risiko penyakit jantung sama dengan hipertensi dan stroke yaitu ada yang tidak dapat diubah (usia, jenis kelamin, keturunan/ras), serta yang dapat diubah (kurang aktivitas fisik, obesitas, diet tidak sehat, stress, konsumsi alkohol, merokok, dislipidemia, diabetes melitus).

Beberapa gejala umum dari penyakit jantung koroner diantaranya keringat dingin, nyeri dada, ada rasa berat dan tertekan di dada, serta rasa mual atau nyeri pada ulu hati.

Jika mengalami gejala ini segera konsultasikan ke dokter. Dokter Arza mengatakan kebanyakan masyarakat kurang waspada terhadap gejala-gejala dan banyak yang menganggap hanya ‘masuk angin’.

“Operasi jantung bypass (CABG) dapat menjadi salah satu terapi penanganan dari penyakit jantung koroner. Tindakan ini dilakukan dengan menyambungkan pembuluh darah yang sehat sebagai “jalur” baru untuk mengalirkan darah ke pembuluh darah yang tersumbat atau mengalami penyempitan.” kata dr.Arza

Lebih lanjut, dr.Arza mengatakan tidak semua pasien dapat dilakukan operasi bypass. Beberapa kriterianya yaitu pasien dengan penyempitan pembuluh darah yang berat atau penyumbatan penyumbatan pembuluh darah jantung/koroner, penyempitan terjadi pada lebih dari tiga pembuluh darah jantung/koroner, nyeri dada berat, dan serangan jantung yang tidak dapat diobati dengan terapi obat-obatan.

“Tim dokter juga akan melakukan melakukan pemeriksaan secara detail sebelum memutuskan apakah pasien membutuhkan operasi jantung atau tidak.” lanjutnya.

Di era pandemi COVID-19, pasien yang akan melaksanakan operasi jantung harus dipastikan tidak sedang terinfeksi COVID-19.

“Jika menderita COVID-19, operasi jantung ditunda minimal tujuh minggu setelah sembuh dari COVID-19,” ucap dr. Arza.

Lebih lanjut dr. Arza menjelaskan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan kerusakan jantung dan butuh perbaikan selama beberapa minggu setelah sembuh, apabila operasi dilakukan terburu-buru dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Tim dokter akan memastikan bahwa pasien telah sembuh dari COVID-19 dan direncanakan untuk operasi jantung pada waktu yang tepat. Sehingga pasien tidak perlu khawatir untuk melakukan operasi jantung saat pandemi termasuk di RSUI.

Dokter Arza juga menginfokan beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum operasi jantung di antaranya, stop merokok dua minggu sebelum operasi, hentikan penggunaan obat pengencer darah sebelum operasi, pemeriksaan komprehensif seperti rekam jantung, foto rontgen, dan laboratorium sebelum operasi, puasa satu hari sebelum operasi, dan swab PCR COVID-19 sebelum operasi elektif/terjadwal. Semua informasi terkait operasi akan dijelaskan kepada pasien sebelum operasi dilakukan.

Related posts



banner 300300