Ini Sosok Imam Budi Balon Walikota dari PKS, Legislatif Pertama di Kota Depok

  • Whatsapp

WartaDepok.com Imam Budi Hartono (IBH) bakal calon (Balon) Wali Kota Depok di Pilkada 2020 sudah mendapat sinyal kuat dari DPP PKS.

Tak hanya Imam Budi Hartono yang mendapat sinyal kuat rekomendasi tiket Pilkada Depok 2020.

Read More

Nama petahana Mohammad Idris pun juga dapat sinyal kuat dari DPP PKS maju di pemilihan Wali kota tahun ini.

Jadi, siapakah yang bakal diusung oleh PKS di Pilkada Depok 2020.

Dari penuturan Imam Budi Hartono. Ia mendapat amanah untuk maju di Pilkada Depok.

Meski, DPP PKS sudah memberikan sinyal ke petahana Mohammad Idris untuk diusung di Pilkada Depok. Imam pun sebagai kader PKS siap didampingi dengan Mohammad Idris.

”Sebagai kader partai, saya siap ditugaskan dan siap bekerjasama dengan siapapun,” kata dia.

Namun, sementara waktu ini surat rekomendasi secara resmi belum diterima DPD PKS Depok.

Untuk mengenal bakal calon Wali Kota Depok dari PKS.

Imam Budi Hartono punya cerita hingga saat ini menjabat sebagai anggota legislatif di Provinsi Jawa Barat. Bahkan ia memegang jabatan sebagai ketua Komisi IV DPRD Jawa Barat.

Imam Budi Hartono berlatar belakang guru.
Imam pernah menjadi guru di STM Panmas. Ia mengajar Matematika setelah setelah selesai kuliah di Universitas Indonesia (UI) Depok.

“Saya lahir di Setia Budi Jakarta Selatan, pada 8 Agustus 1968. Masa kecilnya sampai SMA banyak di Jakarta. Untuk pendidikan saya sekolah di SD Negeri Muhammadiyah 12 Setia Budi yang kini sudah tergusur, SMP Negeri 58, dan SMA Negeri 3 Jakarta,” kata Imam Budi Hartono.

Setelah itu Imam menceritakan mulai aktif ikut kegiatan sejak di bangku SMP. Ia sering menjadi petugas penggerak bendera merah putih.

“Ketika sekolah di SMA Negeri 3 Jakarta, baru saya di organisasi rohani Islam (rohis).
Hampir setiap hari pulang pukul 10 malam. Padahal berangkat sejak pukul 6 pagi, ” cerita imam mengenang.

Kata Imam lanjut bercerita, setiap hari ada saja kegiatan yang lakukan setelah jam sekolah. Seperti bimbingan baca Alquran, bimbingan matematika, dan fisika kimia.

“Saya juga ikut bela diri yaitu kungfu.Juga aktif di OSIS di bidang pendidikan dan pernah ikut lomba karya ilmiah tingkat SMA, ” tutur Imam.

Setelah menceritakan masa pendidikan di SD, SMP, dan SMA. Imam melanjutkan, setelah lulus SMA. Ia mendapat undangan untuk kuliah di ITB.

Tapi Imam tidak jadi berangkat ke Bandung karena dianggap terlalu jauh oleh orangtuanya.

“Orang tua gak izinkan saya, tapi saya diterima di Teknik Kimia Universitas Indonesia (UI) setelah ikut tes penerimaan mahasiswa baru, ” kata Imam.

Kata Imam, ketika di kampus tidak banyak mengikuti organisasi, seperti di SMA. Karena kondisi ekonomi keluarga, Imam harus belajar hidup mandiri.

”Maklum, orang tua saya seorang sopir. Jadi saya harus mencari tambahan uang untuk biaya fotokopi materi kuliah dan sebagainya,” kenang Imam.

Imam akhirnya Imam menjadi guru privat untuk anak-anak SD, SMP dan SMA. Uang hasil mengajar privat itu dijadikan tambahan biaya kuliah dan kebutuhan lainnya.

”Alhamdulillah akhirnya berhasil juga,” kata dia.

Selama kuliah di Depok, Imam menjadi anak kos. Tapi sekali dalam sebulan, Imam pulang ke Jakarta menjenguk orangtuanya.

Setelah lulus kuliah, Imam mengajar di STM Panmas untuk mata pelajaran Matematik dan keilmuan lainnya.

“Cukup lama mengajar di situ. Nah ketika masa reformasi 1998, saya ikut berdemo bersama teman-temannya ketika menjadi mahasiswa di Gedung DPR MPR, ” kata dia.

Momen itulah kemudian yang menjadi cikal bakal dibentuknya Partai Keadilan (PK). Imam pun dipercaya menjadi pengurus di DPC PK di Kecamatan Beji.

“Setelah Depok menjadi kota, saya dipercaya menjadi Ketua DPD Partai Keadilan Kota Depok. Saya ketua PK pertama di Kota Depok. Akhirnya saya terpilih menjadi anggota DPRD. Kami bersama sejumlah anggota DPRD lainnya, menjadi anggota dewan pertama di Kota Depok,” kata Imam.

Dia sendiri juga tidak menyangka bisa menjadi anggota dewan sampai sekarang.
Ia bersyukur bisa naik kelas, dari anggota DPRD Kota Depok menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat.

”Tidak banyak diantara angkatan kami yang naik kelas di dewan,” kata Imam.

Padahal ketika selesai kuliah ada keinginan Imam untuk melanjutkan pendidikan S2.

Apalagi ketika itu, Pertamina sempat menawarkan beasiswa ke Australia.

”Saya pingin banget menjadi pejabat di Pertamina. Tapi ternyata Allah takdirkan saya di politik untuk melayani masyarakat,” kata dia.

Imam mengaku lebih senang berada di politik. Apalagi banyak tugas dari partai, termasuk membenahi sistem pemerintahan di Indonesia.

”Banyak hal yang bisa kita perjuangkan untuk kepentingan masyarakat. Ada kesenangan tersendiri ketika melakukan advokasi ke masyarakat dan berhasil,” kata Imam.

Latar belakang keluarga yang sederhana, membuat seorang Imam harus gigih memperjuangkan nasibnya untuk menjadi sosok yang sukses.

Kini ketika menjadi pejabat, Imam juga gigih memperjuangkan nasib banyak orang yang membutuhkan.

Sebagai wakil rakyat, Imam tampak selalu sederhana. Ini yang membuat dia tidak berjarak dengan masyarakat.(wan/WD)

Related posts