Kasus Seorang Pelajar Nekat Bunuh Diri, Ini Kata Psikolog UP

  • Whatsapp
Ilustrasi/Shutterstock

WartaDepok.com – Seorang pelajar di Dusun Bontotene Desa Bilalang Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan nekat bunuh diri diduga karena stres akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Korban adalah MI (16) siswa kelas XI. Korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara diduga menenggak racun rumput. Dia ditemukan terbujur kaku dibawah tempat tidurnya pada Sabtu (17/10).

Read More

Diduga, korban depresi karena tugas daring dari sekolahnya.

Menanggapi hal itu, psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta menuturkan, kondisi perubahan saat ini memang menimbulkan tekanan pada setiap orang. Dan tekanan itu dimaknai berbeda oleh setiap orang.

Ada yang memiliki tingkat kerentanan tinggi sehingga mudah sekali terpicu dengan tekanan sehingga menjadi stress dan depresi.

“Hal ini sangat tergantung pada aspek kepribadian seseorang serta besarnya tekanan yang diterimanya. Kondisi tekanan yang berat sangat memungkinkan seseorang untuk mengambil tindakan penyelesaian masalah yang dirasa paling mungkin dilakukan, salah satunya adalah dengan bunuh diri,” katanya, Senin (19/10).

Tindakan bunuh diri yang dilakukan MI di usia belia itu tentu sangat disayangkan. Shinta mengatakan, usia tidak terlalu relevan dengan dorongan bunuh diri.

“Karena biasanya orang yang melakukan bunuh diri sudah memiliki kecenderungan bunuh diri dan beberapa kali upaya bunuh diri,” ucapnya.

Tiap individu tentunya memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi masalah. Ada yang dengan cepat bisa mengatasi masalahnya, namun ada pula yang sebaliknya.

Dalam situasi sessoranh dengan tekanan yang tinggi membuat dia kesulitan menemukan alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan dan akhirnya memilih jalan termudah yaitu mengakhiri hidupnya.

“Kenapa dirasakan sulit menemukan pemecahan masalah? Biasanya karena faktor pribadi, kurang terbuka, memendam perasan/pikiran sendiri, overthinking, dukungan sosial dari lingkungan terdekat seperti orang tua,” ungkapnya.

Dalam kasus ini, Shinta berpendapat bahwa PJJ sendiri seringkali hanya menjadi ‘ pemicu’ masalah kepribadian atau kesehatan mental seseorang.

Sebelumnya, sudah ada permasalahan yang dimiliki anak tersebut. “Betul (ada masalah lain sebelumny), adanya faktor kepribadian seperti kecemasan yang tinggi, ketidak mampuan menangani masalah dan coping stress yang cenderung emotional bfocused coping bukan problem focused coping,” ujarnya.

Dia menuturkan, peran orang tua juga diperlukan dalam berbagai sisi kehidupan anak, termasuk PJJ salah satunya. Hanya saja porsi pada tiap tingkatannya berbeda.

“Untuk anak SD memang masih sangat dibutuhkam pengawasan ortu, tapi untuk remaja sebenarnya pengawasa ortu hanya perlu sesekali asal kemandirian anak sudah terbangun. Ortu juga sebaiknya memahami tuntutan sekolah, tidak memberi beban lebih misalnya menuntut rangking, memarahi terus menerus, dan sebagainya,” ungkap Shinta.

Perihal sistem PJJ ini, dia menyarankan agar pihak sekolah
sebaiknya melakukan persamaan persepsi dengan ortu agar selaras antara tuntutan sekolah dan sikap ortu di rumah. Dalam sistem PJJ memang banyak sekali variasinya.

Salah satunya adalah dengan tuntutan tugas yang tinggi. Ada baiknya semua pihak mengubah fokus dari pencapaian nilai (melalui pemberian tugas yang berlebihan) menjadi ke pemahaman akan materi belajarnya sendiri.

Mendorong siswa untuk senang dan bahagia dalam belajar dengan memberi kesempatan mengeksploras ilmu. Tidak semua dibebankan pada siswa terutama harus terkoneksi jaringan.

“Banyak anak yang merasakan tekanan karena tidak memiliki kemampuan dalam mengendalikan jaringan (tidak punya gawai yang mendukung, tidak punya pulsa, tidak ada signal, dan sebagainya),” pungkasnya. (Wan/WD)

Related posts