Pemutilasi Rinaldi Dimata Ketua BEM UI 2014 Sering Mengkritik

  • Whatsapp
Ilustrasi/Pixabay

WartaDepok.com – Laeli Atik Supriyatin wanita pembunuh dan pelaku mutilasi Rinaldy Harley Wismanu (RHW) saat kuliah di Universitas Indonesia (UI) dikenal pernah mengkritik pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI.

Kritikan yang dilontarkan seputar dunia kampus dan kepemimpinan BEM UI agar lebih baik lagi.

Read More

Seperti yang diungkapkan Ivan Riansa, Ketua BEM UI tahun 2014.

“Kalau dibilang suka mengkritik, memang benar. Makanya dulu motivasinya mau menjadi pemira Karena dia pengen biar pemimpin 2015 itu menurut dia bisa lebih baik daripada saya,” kata Ivan ketika dihubungi, Sabtu (19/8/2020).

Ivan sendiri mengenal Laeli ketika dia menjadi Ketua BEM. Saat itu Laeli sebagai project officer Pemira UI tahun 2014.

“Saya kan Ketua BEM 2014 pas pemilu pertama Pak Jokowi. Nah, Laeli itu Saya kenal menjelang pergantian akhir tahun kan ada transisi kepemimpinan juga di lembaga kemahasiswaan UI.

Ngga cuma di BEM, ada di 3 lembaga lah eksekutif,legislatif, yudikatif. BEM, MPM dan MWA UI,” bebernya.

Saat itu Laleli menjabat sebagai project officer di triwulan ketiga tahun 2014. Saat itu Ivan adalah salah satu steering commitee.

Menurutnya, kritikan yang diberikan Laeli terhadap BEM relevan dan dia pun mengganggap sebagai hal lumrah dalam dunia organisasi.

“Kritikannya standar saja soal politik internal kampus kok, tidak substansial karena Indonesia juga sedang pesta demokrasi ya sehingga bem juga fokusnya keluar, aktif untuk mengawal pemili dengam baik. Karena salah satunya kita juga mengatur lokasi biar anak-anak daerah di UI bisa milih,” katanya.

Namun ada hal yang tidak diketahui oleh khalayak. Ivan menyebut bahwa saat menjabat sebagai project officer, Laeli diberhentikan di tengah jalan sebelum masa jabatannya selesai.

“Secara kinerja yang belum banyak publik tahu, dia di tengah jalan saat menjalankan amanah sebagai project officer juga di pecat akhirnya sama lembaga yudikatif. Tidak perform juga (kinerjanya),” bebernya.

Pemberhentian itu disinyalir karena Laeli berafiliasi dengan salah satu calon. “Karena dia memiliki keberpihakan sama salah satu calon.

Kan harusnya dia lembaga penyelenggara kayak KPUnya, harusnya tidak boleh berpihak. Makanya akhirnya dihentikan oleh semacam DKPP dan ada saya juga salah satunya,” ucapnya.

Ivan sendiri tak heran jika Laeli bermasalah. Karena saat di kampus pun Laeli sudah memiliki rekam jejak tersendiri saat menjadi project officer.

“Iya kalau misalnya dibilang anak sedikit bermasalah dari kuliah memang saya juga cukup tahu track recordnya secara kinerja tidak profesional karena akhirnya dia dipecat.

Tapi saya pribadi juga cukup kaget (dengan kasus mutilasi yang dilakukan) karena hal ini bukan hal yang biasa,” katanya.

Kendati tidak kenal dekat dengan Laeli namun Ivan sempat kaget mendengar kasus yang melibatkan wanita 27 tahun itu. Karana apa yang dilakukan Laeli dianggap diluar batas kemanusiaan.

“Saya ya jujur kaget karena walaupun saya tahu dia aktif dan secara kinerja juga biasa aja tapi tidak menyangka sajalah, karena ini kan di luar batas kemanusiaan,” pungkasnya.

Related posts